.png)
.png)
Konflik Palestina–Israel telah lama menjadi medan pertarungan kepentingan geopolitik, di mana rakyat Palestina kerap menjadi korban dari permainan kekuatan besar dunia. Pada 2025, inisiatif Board of Peace (BOP) yang digagas Donald Trump dan didukung Amerika Serikat serta Israel, justru menambah babak baru dari dominasi dan manipulasi atas nasib bangsa Palestina. BOP tidak hanya menjadi sekadar proyek rekonstruksi Gaza, namun juga alat hegemoni baru yang memperlihatkan bagaimana kekuatan besar menundukkan aspirasi Palestina dan menguji solidaritas serta keberanian negara-negara Muslim.
Board of Peace: Alat Hegemoni dan Manipulasi
BOP menunjukkan bagaimana Palestina telah menjadi medan pertarungan politik antara kekuatan besar, tanpa memperhatikan nasib dan kepentingan rakyat Palestina sendiri. Meskipun dideskripsikan sebagai inisiatif perdamaian, BOP sebenarnya tidak melibatkan partisipasi atau konsultasi langsung dengan rakyat Palestina. Sebagai akibatnya, keputusan yang diambil oleh BOP cenderung lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat dan Israel daripada membantu mewujudkan keadilan dan kedamaian bagi rakyat Palestina.
Di permukaan, BOP dihadirkan sebagai solusi multilateral—rekonstruksi Gaza, pemerintahan transisi, dan jaminan perdamaian (Al Jazeera, 2026a). Namun, jika dikaji lebih dalam, BOP didesain untuk memenuhi kepentingan keamanan Israel, yakni demiliterisasi Hamas, pembatasan pengaruh Iran, hingga legitimasi terhadap tindakan militer Israel bila terjadi "pelanggaran" (Foreign Policy, 2026a). BOP memberi Israel ruang untuk menentukan parameter keamanan, sementara hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dimiskinkan dan disubordinasi di bawah kendali asing.
Inisiatif ini, di bawah kepemimpinan Trump, jelas tidak bebas nilai. BOP justru menunjukkan bagaimana Amerika Serikat memperlakukan krisis Palestina sebagai komoditas tawar-menawar politik global. Negara-negara anggota didorong bergabung melalui skema "pembayaran kursi"—US$1 miliar untuk keanggotaan tetap (Wikipedia, 2026; Al Jazeera, 2026b). BOP secara terang-terangan didesain untuk menggantikan peran PBB, melemahkan sistem multilateral yang (meski lemah) selama ini masih memberi ruang advokasi bagi Palestina (Fox News, 2026). Dengan demikian, Amerika Serikat memindahkan pusat pengambilan keputusan ke forum yang lebih mudah dikendalikan dan dieksploitasi.
Tokoh-tokoh pro-Israel dan jaringan lobi Zionis punya pengaruh kuat dalam penyusunan agenda dan struktur BOP. Negara yang diundang mayoritas "ramah" terhadap agenda Amerika dan Israel, sementara suara negara-negara kritis—seperti Iran, Suriah, dan Aljazair—secara sistematis disingkirkan (Al Jazeera, 2026c). BOP berfungsi sebagai selubung legitimasi bagi Israel untuk mengamankan kepentingan militernya, bahkan atas nama "diplomasi" dan "rekonstruksi".
Ketidakberdayaan dan Kompromi Negara-Negara Muslim
Negara-negara Muslim sering kali terpecah belah dan tidak mampu bersatu dalam menghadapi kebijakan luar negeri Israel yang merugikan mereka. Hal ini membuat Israel semakin leluasa dalam melanggar hak asasi manusia dan mengabaikan hukum internasional tanpa adanya konsekuensi yang signifikan.
Fakta bahwa 8 negara mayoritas Muslim—termasuk Saudi Arabia, Qatar, UEA, Turki, Mesir, Indonesia, Yordania, dan Pakistan—bergabung sebagai anggota pendiri BOP tidak bermakna perlawanan, melainkan justru menunjukkan betapa mudahnya negara-negara ini ditekan untuk tunduk pada agenda Amerika (Al Jazeera, 2026c). Keterlibatan mereka sering diklaim sebagai upaya "mempengaruhi dari dalam", namun struktur BOP yang sangat sentralistik dengan kontrol penuh di tangan Trump membuat peran negara-negara Muslim hanya sekadar aksesori legitimasi.
Di mata publik, negara-negara Muslim kerap mengumbar retorika pembelaan terhadap Palestina. Namun pada praktiknya, mereka gagal membangun koalisi tegas melawan BOP atau menawarkan alternatif yang lebih adil. Negara-negara seperti Arab Saudi dan UEA bahkan menggunakan isu Palestina untuk kepentingan diplomatik sendiri, menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah meja sambil beretorika di forum publik (Amnesty International, 2026). Kompromi semacam ini memperkuat narasi ketidakberdayaan dan pengkhianatan terhadap perjuangan Palestina.
Dunia Muslim semakin terfragmentasi. Negara-negara yang tidak bergabung pun lebih banyak menempuh jalur protes simbolik ketimbang aksi nyata. Tidak ada embargo, boikot, atau tekanan ekonomi-politik serius terhadap Israel maupun Amerika Serikat pasca BOP. Akibatnya, BOP justru memperkuat posisi tawar Israel dan Amerika, sementara Palestina semakin terisolasi di panggung global (Al Jazeera, 2026c).
Dampak BOP bagi Palestina: Legitimasi Baru Penindasan
Perkembangan terakhir mengindikasikan bahwa BOP telah memberikan legitimasi baru bagi penindasan yang dialami oleh rakyat Palestina. Sejak BOP, Israel semakin leluasa dalam melanjutkan kebijakan-kebijakan yang merugikan Palestina, seperti pembangunan pemukiman ilegal di Tepi Barat dan blokade terhadap Jalur Gaza. Sementara itu, Amerika Serikat juga semakin mendukung Israel tanpa hambatan, termasuk dalam pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Dalam situasi ini, Palestina semakin terisolasi dari dukungan global dan minimnya intervensi internasional.
BOP memperkecil ruang partisipasi rakyat Palestina dalam proses politik dan rekonstruksi. Pemerintahan teknokrat transisi yang diamanatkan BOP tidak dipilih rakyat Gaza, tetapi ditunjuk dan diawasi dari luar, menjadikan Gaza sebagai "laboratorium" eksperimen geopolitik (Al Jazeera, 2026a).
Bantuan dan rekonstruksi dikondisikan pada kepatuhan terhadap parameter keamanan Israel dan agenda negara donor. Bantuan kemanusiaan tidak lagi menjadi hak, tetapi hadiah yang diatur—menciptakan ketergantungan dan subordinasi baru bagi Gaza (Oxfam America, 2026).
Dengan BOP, Israel mendapat pembenaran baru untuk langkah militer bila dianggap ada "pelanggaran" oleh pihak Palestina. Sementara itu, laporan dan advokasi pelanggaran HAM dari PBB dan lembaga internasional lain semakin tersingkir dan dibungkam oleh narasi BOP (Human Rights Watch, 2026).
Respons Masyarakat Gaza dan Dunia Muslim: Frustrasi, Skeptis, dan Tak Berdaya
Warga Gaza menyambut BOP dengan harapan tipis, namun dominan dengan skeptisisme dan frustrasi. Banyak yang menyadari mereka tidak menjadi subjek utama dalam agenda BOP; nasib mereka kembali diputuskan di ruang rapat elite luar negeri (Al Jazeera, 2026a). Di Tepi Barat, kekecewaan bahkan lebih terasa—BOP dipandang sebagai episode baru upaya pembungkaman suara dan aspirasi nasional Palestina (Al Jazeera, 2026d).
Kelompok HAM internasional menyoroti bahwa BOP hanyalah selubung stabilitas semu yang mengabaikan keadilan, akuntabilitas, dan hak-hak korban. Mereka menuntut agar dunia internasional tidak terjebak pada narasi perdamaian palsu yang sebenarnya memperkuat status quo penindasan (Amnesty International, 2026; HRW, 2026).
Kesimpulan: Board of Peace sebagai Refleksi Kegagalan Kolektif
Board of Peace adalah cermin terang-benderang dari wajah baru imperialisme dan manipulasi politik global yang dijalankan Amerika Serikat dan Israel dengan legitimasi semu negara-negara Muslim. Di bawah retorika perdamaian, BOP sesungguhnya adalah instrumen untuk menundukkan dan mengendalikan Palestina, sekaligus mempermalukan solidaritas dunia Muslim yang lemah, terpecah, dan mudah didikte. Jika dunia internasional tidak segera membangun mekanisme solidaritas dan perlawanan nyata terhadap hegemoni ini, BOP akan tercatat dalam sejarah sebagai babak baru legitimasi penindasan atas nama perdamaian.
Referensi
Al Jazeera. (2026a, January 16). Scepticism and hope: Gaza reacts to Trump’s Board of Peace. https://www.aljazeera.com/features/2026/1/16/scepticism-hope-gaza-reacts-trump-board-of-peace
Al Jazeera. (2026b, January 18). Trump’s Board of Peace appears to seek wider mandate beyond Gaza. https://www.aljazeera.com/news/2026/1/18/trumps-board-of-peace-appears-to-seek-wider-mandate-beyond-gaza
Al Jazeera. (2026c, January 21). Trump’s Board of Peace: Who has joined, who hasn’t and why? https://www.aljazeera.com/news/2026/1/21/trumps-board-of-peace-who-has-joined-who-hasnt-and-why
Al Jazeera. (2026d, January 16). West Bank Palestinians react to Trump’s Board of Peace. https://www.aljazeera.com/news/2026/1/16/west-bank-palestinians-react-trump-board-of-peace
Amnesty International. (2026, January). Trump’s Board of Peace: Palestinian rights must not be ignored. https://www.amnesty.org/en/latest/news/2026/01/trump-board-of-peace-palestinian-rights/
Foreign Policy. (2026, January 22). Trump’s Board of Peace and the international cooperation dilemma. https://foreignpolicy.com/2026/01/22/trump-board-of-peace-united-nations-gaza-ukraine-international-cooperation/
Fox News. (2026, January). Trump floats Board of Peace to replace UN. https://www.foxnews.com/world/trump-floats-board-peace-replace-un-signals-major-global-power-shift/
Human Rights Watch. (2026, January 21). Gaza: Board of Peace rights focus must not be ignored. https://www.hrw.org/news/2026/01/21/gaza-board-of-peace-rights-focus-must-not-be-ignored
Oxfam America. (2026, January). Statement on President Trump’s Gaza Board of Peace. https://www.oxfamamerica.org/press/oxfam-america-statement-on-president-trumps-gaza-board-of-peace/
Wikipedia. (2026). Board of Peace. https://en.wikipedia.org/wiki/BoardofPeace
.png)

.png)
.png)

