Culture

Nuklir Masuk Desa

Sebagian besar pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) memiliki ukuran raksasa, cukup tambun untuk memenuhi kebutuhan energi sebuah kota berukuran sedang. Setiap PLTN pabriknya bisa menghabiskan miliaran dolar. Tidak heran lusinan purwarupa reaktor kecil bersaing untuk menarik perhatian industri, sebagai alternatif bahan bakar rendah emisi. Jika reaktor mini dirancang sebagai modul-modul, maka satu unit mungkin mampu memenuhi kebutuhan satu kota terpencil atau tambang. Di negara berkembang, reaktor kecil akan mengurangi tekanan yang ditanggung oleh jaringan listrik yang rapuh. Kekuatannya bisa ditambah secara bertahap dan bisa menjadi daya tarik bagi produsen energi dengan dana terbatas. Tak satu pun dari reaktor-reaktor kecil ini yang telah diaktifkan.

Reaktor seperti ini bebas karbon, relatif murah, dan mestinya cukup aman. Pembangkit nuklir mini di bawah tanah juga bisa memenuhi kebutuhan energi sebuah desa.

Beberapa, seperti yang dirancang oleh NuScale Power, adalah reaktor kecil yang didinginkan oleh air yang mirip dengan reaktor kuno yang digunakan pada kapal perang. Reaktor lainnya lebih modern. Toshiba dan Institut Penelitian Pusat atas Industri Tenaga Listrik di Jepang sedang meneliti “baterai nuklir” yang berpendingin natrium cair.

Reaktor ini—dikirim dalam keadaan terakit sebagian dan dipasang di bawah tanah—mampu menghasilkan sepuluh megawatt selama 30 tahun lamanya sebelum diperlukan pengisian ulang untuk bahan bakarnya. Galena, desa di Alaska sedang bernegosiasi untuk menjadi pelanggan pertamanya. Selain lebih murah, beberapa reaktor kecil secara bawaan lebih aman, kata Vladimir Kuznetsov dari Badan Tenaga Atom Internasional.

Desain NuScale tidak mengharuskan adanya pompa pendingin reaktor, sementara pompa Toshiba menggunakan teknologi elektromagnetik, tanpa bagian yang bergerak; keduanya mengurangi kemungkinan munculnya kegagalan. Sementara itu, para peneliti di China sedang mengembangkan sebuah reaktor kecil dengan pembatasan otomatis. Saat uji coba dramatis pada 2004, mereka mematikan sistem pendingin; reaktor itu pun membakar dirinya sendiri.

Kehadiran reaktor-reaktor baru, tentu saja, tetap mendatangkan persoalan limbah radioaktif. Saat ini ada 56 reaktor yang sedang dibangun di seluruh dunia, di China sendiri ada 19. Dengan melonjaknya permintaan energi dan ancaman perubahan iklim, bahkan pembangunan sepesat itu pun tidak akan meningkatkan pangsa nuklir dalam pasokan listrik global. Reaktor-reaktor kecil bisa membantu. “Tujuannya meningkatkan sumber energi rendah karbon dengan cepat,” kata Richard Lester dari MIT. Syaratnya, para pembuat kebijakan bisa diajak kerja sama. Di AS, para pejabat mengatakan beberapa desain mungkin mendapatkan sertifikasi dalam lima tahun ini. Sementara desain yang lebih inovatif mungkin butuhkan waktu lebih lama. (Chris Carroll, National Geographic)

Tidak ada komentar

Leave a Reply