Pemerintah disarankan untuk mengembangkan gas metana batu bara atau coal bed methane (CBM) sebagai bahan bakar pembangkit listrik di mulut tambang layaknya pembangkit listrik panas bumi.
Rovicky Dwi Putrohari, Anggota Bidang Energi Ikatan Ahli Geologi Indonesia, mengatakan CBM mengandung hampir 95% methane. Berbeda dengan gas konvensional, CBM memiliki tekanan yang lebih rendah.
“Dengan kandungan methane 95% CBM tidak cocok untuk dikembangkan menjadi LNG. Kalau dikembangkan menjadi LNG, karena tekanannya yang rendah ia juga membutuhkan infrastruktur tambahan seperti kompresor untuk mentransfer gasnya ke konsumen,” paparnya hari ini.
Untuk itu, katanya, IAGI mengusulkan agar CBM dikembangkan seperti halnya pengembangan panas bumi yang bisa dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilirnya.
Pengembangan integratif itu dilakukan dengan pengembangan CBM sebagai pembangkit listrik mulut tambang. “Dengan karakter low pressure dan high methane, CBM lebih cocok dikembangkan sebagai mine mouth generations,” katanya.
Sumber: Bisnis Indonesia, Rudi Ariffianto
Pengembangan CBM disarankan untuk pembangkit
Sukma Sepriana
22/07/10
Pemerintah disarankan untuk mengembangkan gas metana batu bara atau coal bed methane (CBM) sebagai bahan bakar pembangkit listrik di mulut tambang layaknya pembangkit listrik panas bumi.
Rovicky Dwi Putrohari, Anggota Bidang Energi Ikatan Ahli Geologi Indonesia, mengatakan CBM mengandung hampir 95% methane. Berbeda dengan gas konvensional, CBM memiliki tekanan yang lebih rendah.
“Dengan kandungan methane 95% CBM tidak cocok untuk dikembangkan menjadi LNG. Kalau dikembangkan menjadi LNG, karena tekanannya yang rendah ia juga membutuhkan infrastruktur tambahan seperti kompresor untuk mentransfer gasnya ke konsumen,” paparnya hari ini.
Untuk itu, katanya, IAGI mengusulkan agar CBM dikembangkan seperti halnya pengembangan panas bumi yang bisa dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilirnya.
Pengembangan integratif itu dilakukan dengan pengembangan CBM sebagai pembangkit listrik mulut tambang. “Dengan karakter low pressure dan high methane, CBM lebih cocok dikembangkan sebagai mine mouth generations,” katanya.
Sumber: Bisnis Indonesia, Rudi Ariffianto
Rovicky Dwi Putrohari, Anggota Bidang Energi Ikatan Ahli Geologi Indonesia, mengatakan CBM mengandung hampir 95% methane. Berbeda dengan gas konvensional, CBM memiliki tekanan yang lebih rendah.
“Dengan kandungan methane 95% CBM tidak cocok untuk dikembangkan menjadi LNG. Kalau dikembangkan menjadi LNG, karena tekanannya yang rendah ia juga membutuhkan infrastruktur tambahan seperti kompresor untuk mentransfer gasnya ke konsumen,” paparnya hari ini.
Untuk itu, katanya, IAGI mengusulkan agar CBM dikembangkan seperti halnya pengembangan panas bumi yang bisa dilakukan secara terintegrasi dari hulu ke hilirnya.
Pengembangan integratif itu dilakukan dengan pengembangan CBM sebagai pembangkit listrik mulut tambang. “Dengan karakter low pressure dan high methane, CBM lebih cocok dikembangkan sebagai mine mouth generations,” katanya.
Sumber: Bisnis Indonesia, Rudi Ariffianto
Tidak ada komentar