Culture

Hari Pembakaran Al-Qur'an 11 September, Pemerintah AS Tak Mampu atau Tak Mau Mencegah?

Baru saja saya membaca berita di situs Harian Republika yang berjudul Pemerintah Amerika Serikat tak Berdaya Cegah Pembakaran Alquran. Ingin sekali rasanya menggampar Barrack Obama seandainya dia ada di hadapan saya. Setidaknya berita ini -sekali lagi- memperkuat bukti-bukti standar ganda demokrasi dan politik Amerika Serikat (AS) terhadap Islam.

Tidak membutuhkan pengamatan mendalam untuk mengetahui bahwa memang sudah pakemnya AS untuk membiarkan kegiatan apapun yang menghina dan melecehkan Islam, termasuk pembantaian terhadap muslim yang masih terus berlangsung hingga saat ini.
 
Dengan berbagai alasan konyol pemerintah AS membiarkan agenda Dove World Outreach Center (DWOC) yang dimotori Pendeta Terry Jones itu. Padahal jika ditilik dari sisi kekuasaan, pemerintah AS bisa saja menghentikan selebrasi hari pembakaran Al-Qur'an dan menghukum berat pelakunya, terlebih lagi DWOC -dikatakan- hanyalah komunitas kecil di AS.

Berbeda halnya dengan Konferensi Khilafah yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Amerika (HTA) bulan Juli lalu. Pemerintah AS bisa melarang berbagai pihak untuk mendukung terselenggaranya hal itu, bahkan tempat penyelenggaraan sekelas Hotel Marriot bisa ditekan sedemikian rupa hingga akhirnya membatalkan acara digelar di tempat tersebut.

Ditinjau dari sisi pelaksana kegiatan, komunitas HTA jelas jauh lebih besar dari DWOC. Dari sisi etika beragama, Konferensi Khilafah yang diselenggarakan HTA tidak menghina agama manapun, sementara Burn a Koran Day inisiatif DWOC jelas-jelas menghina Islam, agama yang dianut oleh lebih dari 1,5 milyar penduduk dunia. Tapi kenapa pemerintah AS mampu berbuat sesuatu untuk menghalang-halangi Konferensi Khilafah (walaupun -atas izin Allah- usaha tersebut gagal) dan -anehnya- tidak bisa berbuat apapun untuk mencegah Burn a Koran Day?.

Jelaslah, bahwa sebetulnya pemerintah AS bukan tidak mampu mencegah acara terlaknat itu melainkan TIDAK MAU. Dan seperti inilah tabiat demokrasi ala Amerika, membiarkan siapa saja menghina Islam atas nama kebebasan berbicara, namun segera membungkam dan melabeli TERORIS jika umat Islam berbicara (ya, sekedar berbicara) menantang hegemoni AS dan ideologi kapitalisme yang diusungnya.

Tidak ada komentar

Leave a Reply