Culture

No Drama-Drama! Begini Layanan Kesehatan Dalam Sejarah Peradaban Islam

Masyarakat Indonesia kembali dihebohkan oleh drama penonaktifan status Penerima Bantuan Iuran (PBI) di program BPJS Kesehatan. Banyak pasien yang tiba-tiba kehilangan akses layanan medis karena status kepesertaannya dinonaktifkan secara sepihak. Tak sedikit cerita haru bermunculan: pasien yang ditolak rumah sakit, harus pulang tanpa perawatan, atau terpaksa mencari pinjaman demi biaya berobat. 

Jika kita menengok sejarah, ada masa di mana layanan kesehatan justru begitu inklusif dan manusiawi. Bayangkan Baghdad abad ke-9, di mana rumah sakit—atau bimaristan—berdiri megah dan terbuka bagi siapa saja, tanpa syarat status atau kemampuan finansial. Tak ada drama penolakan pasien, apalagi soal biaya. Inilah cerminan kegemilangan praktek rumah sakit dalam peradaban Islam. Pelayanan gratis untuk semua, tanpa diskriminasi, penuh etika, dan mengedepankan kemanusiaan. 

Siapa sangka, konsep rumah sakit modern yang kita kenal sekarang justru lahir dari peradaban Islam ribuan tahun lalu. Asal-usul bimaristan berasal dari kata Persia, bimar berarti sakit dan stan berarti tempat—tempat orang sakit atau rumah sakit. Tonggak penting sejarah ini terjadi ketika Khalifah al-Walid bin Abdul-Malik dari Bani Umayyah mendirikan rumah sakit pertama di Damaskus sekitar tahun 705–708 M, khusus untuk penderita kusta. Namun, puncak kejayaan rumah sakit Islam terjadi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah Harun al-Rashid (786–809 M) memerintahkan pembangunan bimaristan di Baghdad yang terkenal modern pada masanya. Dilengkapi apotek, staf terlatih, dan paling mencengangkan adalah pelayanan gratis untuk semua orang tanpa pandang bulu. Bahkan, pada masa kejayaan Khilafah Abbasiyah, Baghdad dikenal memiliki ratusan rumah sakit hingga dijuluki pusat medis dunia.

Salah satu keunggulan utama bimaristan Abbasiyah adalah sistem pembiayaan yang sepenuhnya gratis bagi pasien. Semua kebutuhan, mulai dari pengobatan, makanan, hingga perawatan pasca rawat inap, ditanggung oleh rumah sakit. Sumber dananya berasal dari wakaf, yakni sumbangan tetap para dermawan yang dikelola oleh negara. Kebijakan ini berlaku tegas, seperti yang tercatat di Rumah Sakit Qalawun, Kairo, “semua pasien—apapun statusnya—diterima sampai sembuh, biaya ditanggung rumah sakit”. Tak heran jika rumah sakit pada masa itu benar-benar menjadi tempat pengayoman sosial.

Tak hanya gratis, bimaristan juga sangat memperhatikan aspek etika dan pelayanan. Salah satunya adalah pemisahan bangsal berdasarkan jenis penyakit, terutama untuk penyakit menular seperti kusta dan lepra. Bangsal khusus ini terletak di area terpisah untuk mencegah penularan ke pasien lain, sebuah konsep yang bahkan melampaui pemahaman dunia medis Eropa saat itu. Selain itu, ada pula pemisahan antara pasien laki-laki dan perempuan, baik dari sisi ruang rawat inap maupun staf medis yang menangani. Dokter dan perawat wanita khusus menangani pasien wanita, dan begitu pula sebaliknya—sebuah bentuk penghormatan pada privasi dan etika sosial yang sangat maju untuk zamannya.

Bimaristan pada masanya bukan sekadar tempat pengobatan, tetapi juga pusat pendidikan dan penelitian medis. Rumah sakit dilengkapi apotek, perpustakaan, ruang belajar, bahkan ruang kuliah. Para mahasiswa medis belajar langsung dari kasus pasien, mengikuti kuliah, diskusi, dan bahkan diuji oleh dokter senior sebelum mendapatkan izin praktik. Salah satu contoh paling terkenal adalah Al-‘Adudi Hospital di Baghdad, didirikan tahun 981 M. Rumah sakit ini memiliki dokter spesialis, seperti ahli bedah, mata, ortopedi, apoteker, dan staf pendukung lainnya. Bahkan, pemilihan lokasi rumah sakit dilakukan secara ilmiah oleh al-Razi dengan metode unik. Caranya dengan menempatkan daging di lokasi berbeda dan memilih tempat yang dagingnya paling lambat busuk—menunjukkan perhatian pada lingkungan yang sehat dan steril.

Sistem pendidikan medis di masa Abbasiyah sangat terstruktur dan disiplin. Setiap calon dokter atau apoteker wajib mengikuti ujian lisensi sebelum praktik, dengan Sinan bin Thabit sebagai Inspektur Kesehatan yang mengawasi kualitas serta menguji siswa secara langsung. Selain rumah sakit besar, ada juga klinik keliling yang menjangkau masyarakat di pelosok—semua demi pemerataan layanan kesehatan.

Kontribusi rumah sakit Islam terhadap masyarakat sangatlah besar. Mereka menyediakan akses kesehatan tanpa diskriminasi untuk semua lapisan masyarakat—orang miskin, asing, bahkan minoritas agama sekalipun tetap dilayani dengan baik. Perawatan untuk gangguan mental juga sudah tersedia, contohnya rumah sakit di Cairo tahun 872 M yang memiliki bagian khusus untuk pasien jiwa. Rumah sakit seperti Al-Nuri di Damaskus dan Mansuri di Kairo menjadi saksi tradisi ini terus berlanjut selama berabad-abad.

Melihat sejarah ini, tak dapat dipungkiri bahwa warisan konsep layanan rumah sakit dari masa keemasan peradaban Islam sangat relevan dengan dunia modern. Layanan kesehatan diposisikan sebagai hak universal, integrasi antara praktik klinis, pendidikan, dan riset, serta regulasi profesi medis yang maju. Semangat melayani semua manusia tanpa pandang bulu dan menjunjung tinggi etika, kebersihan, serta profesionalisme adalah pelajaran berharga yang seharusnya tetap kita adopsi. Bayangkan jika semangat inklusif dan ilmiah ini dihidupkan lagi hari ini. Mungkin cerita dunia kesehatan kita akan jauh lebih baik.

 

Bahan Bacaan
  • https://www.kompas.com/stori/read/2021/09/17/090000579/rumah-sakit-pada-masa-peradaban-islam
  • https://www.historygeographic.org/p/who-built-the-first-hospital
  • https://qantara.de/en/article/houses-healing-success-early-arab-medicine-against-epidemics
  • https://studybuddhism.com/en/advanced-studies/history-culture/buddhism-islam-advanced/from-monasteries-to-hospitals-buddhist-and-islamic-medical-traditions
  • https://www.aramcoworld.com/articles/2017/the-islamic-roots-of-the-modern-hospital
  • https://en.wikipedia.org/wiki/Al-%27Adudi_Hospital
  • https://igrfoundation.blogspot.com/2012/01/hospitals-in-medieval-islam.html
  • https://journal.aspetar.com/en/archive/volume-3-issue-2/bimaristans-166
  • https://www.aldakwah.org/index.php/ct-menu-item-3/ct-menu-item-13/457-rumah-sakit-dalam-sejarah-peradaban-islam

 

Tidak ada komentar

Leave a Reply