Pemerintah diminta mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman utang yang diberikan oleh Bank Dunia dalam rangka pengembangan proyek-proyek di sektor energi, sehingga tidak lagi menjadi beban anggaran negara.
Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan mengungkapkan ketergantungan Indonesia kepada Bank Dunia dalam periode 1969-2009, membuat pemerintah tidak bisa lepas dari kepentingan lembaga kreditor yang ada, baik dari sisi teknologi maupun pemanfaatan cadangan sumber daya alam.
“Berdasarkan hasil penelitian terkait proyek-proyek di sektor energi yang didanai oleh Bank Dunia selama 40 tahun ini, kami menyimpulkan Indonesia tidak bisa menjadi negara yang berdaulat terhadap sumber energinya sesuai amanat konstitusi, malahan terjebak dengan ketergantungan terhadap teknologi dari negara lain,” kata dia, hari ini.
Bahkan, lanjut dia, Indonesia tidak pernah menyadari telah dijebak oleh negara kreditor untuk melepaskan cadangan-cadangan energinya bagi kepentingan industri negara maju. Menurut dia, pemerintah harus segera melepaskan ketergantungan kepada utang Bank Dunia sehingga menjadi negara yang berdaulat terhadap kepentingan masyarakat.
“Sektor energi memang memiliki prioritas dalam skema penyaluran utang Bank Dunia, tetapi pengelolaan energi nasional juga harus didasarkan pada paradigma konstitusi untuk memanfaatkan sumber daya alam bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tutur Dani.
Sumber: Bisnis Indonesia (04/05/2010)
Kurangi Pinjaman untuk Proyek Energi
Sukma Sepriana
05/05/10
Pemerintah diminta mengurangi ketergantungan terhadap pinjaman utang yang diberikan oleh Bank Dunia dalam rangka pengembangan proyek-proyek di sektor energi, sehingga tidak lagi menjadi beban anggaran negara.
Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan mengungkapkan ketergantungan Indonesia kepada Bank Dunia dalam periode 1969-2009, membuat pemerintah tidak bisa lepas dari kepentingan lembaga kreditor yang ada, baik dari sisi teknologi maupun pemanfaatan cadangan sumber daya alam.
“Berdasarkan hasil penelitian terkait proyek-proyek di sektor energi yang didanai oleh Bank Dunia selama 40 tahun ini, kami menyimpulkan Indonesia tidak bisa menjadi negara yang berdaulat terhadap sumber energinya sesuai amanat konstitusi, malahan terjebak dengan ketergantungan terhadap teknologi dari negara lain,” kata dia, hari ini.
Bahkan, lanjut dia, Indonesia tidak pernah menyadari telah dijebak oleh negara kreditor untuk melepaskan cadangan-cadangan energinya bagi kepentingan industri negara maju. Menurut dia, pemerintah harus segera melepaskan ketergantungan kepada utang Bank Dunia sehingga menjadi negara yang berdaulat terhadap kepentingan masyarakat.
“Sektor energi memang memiliki prioritas dalam skema penyaluran utang Bank Dunia, tetapi pengelolaan energi nasional juga harus didasarkan pada paradigma konstitusi untuk memanfaatkan sumber daya alam bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tutur Dani.
Sumber: Bisnis Indonesia (04/05/2010)
Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan mengungkapkan ketergantungan Indonesia kepada Bank Dunia dalam periode 1969-2009, membuat pemerintah tidak bisa lepas dari kepentingan lembaga kreditor yang ada, baik dari sisi teknologi maupun pemanfaatan cadangan sumber daya alam.
“Berdasarkan hasil penelitian terkait proyek-proyek di sektor energi yang didanai oleh Bank Dunia selama 40 tahun ini, kami menyimpulkan Indonesia tidak bisa menjadi negara yang berdaulat terhadap sumber energinya sesuai amanat konstitusi, malahan terjebak dengan ketergantungan terhadap teknologi dari negara lain,” kata dia, hari ini.
Bahkan, lanjut dia, Indonesia tidak pernah menyadari telah dijebak oleh negara kreditor untuk melepaskan cadangan-cadangan energinya bagi kepentingan industri negara maju. Menurut dia, pemerintah harus segera melepaskan ketergantungan kepada utang Bank Dunia sehingga menjadi negara yang berdaulat terhadap kepentingan masyarakat.
“Sektor energi memang memiliki prioritas dalam skema penyaluran utang Bank Dunia, tetapi pengelolaan energi nasional juga harus didasarkan pada paradigma konstitusi untuk memanfaatkan sumber daya alam bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat,” tutur Dani.
Sumber: Bisnis Indonesia (04/05/2010)
Tidak ada komentar